Tulisanku

Minggu, 09 Januari 2011

contoh esai



DEMOKRASI DI INDONESIA
                Demokrasi adalah satu istulah yang sudah sering kita dengar. Bahkan dari semenjak Sekolah Menengah Pertama pun istilah ini sudah menjadi materi pembelajaran.  Seperti yang telah kita ketahui bahwa istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang tepatnya dari di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu “demos” yang berarti rakyat, dan “kratos” atau “cratein” yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kita pun tahu bahwa demokrasi adalah suatu bentuk sistem pemerintahan yang digunakan oleh suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
            Salah satu pilar demokrasi adalah mengikuti prinsip “trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik Negara pada tiga bagian yaitu eksekutif, yudikatif dan legislatif. Masing-masing dijalankan oleh tiga jenis lembaga-lembaga negara yaitu lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakya seperti DPR yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Kesejajaran ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol. Jadi tidak ada istilah kekuasaan tertinggi atau pun  kekuasaan bawahan.
            Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya kedaulatan memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih sendiri secara langsung presidennya hanyalah sedikit dari sekian banyak kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Bahkan pemilihan umum ini sering disalah gunakan misalnya dengan adanya money politic yang sering beredar sebelum berlangsungnya pemilihan umum. Contoh lain dari penyalahgunaan pemilihan umum seperti yang beberapa waktu lalu terjadi, yaitu partai-partai besar yang secara sukarela menolong korban bencana alam. Acara ini biasanya langsung diliput oleh stasiun TV dan bukan tidak mungkin menyedot perhatian dan simpati masyarakat pada partai tersebut. Akan tetapi, lihatlah setelah pemilihan umum usai, tak ada satu partai pun yang rela mengucurkan dananya untuk menolong korban-korban itu.
            Terkadang, demokrasi memang bernilai negatif. Mengapa demikian? Karena banyak yang menggunakan kekuasaan rakyat itu untuk sesuatu yang salah. Misalnya saja masyarakat di hasut dengan alas an bahwa calon partai A adalah orang terkenal, sedang partai B orang yang tidak jelas. Hal-hal itu sering dimanfaatkan oleh para politikus.  Dan saat ini arti demokrasi sendiri sudah banyak tercemar  karena  banyak yang mengartikan secara harafiah kata demokrasi disamakan dengan kebebasan yang tanpa batas. Lalu jika demikian apa bedanya antara demokrasi dan liberalisme?
            Sesungguhnya demokrasi bukanlah ideologi yang memberikan ruang tak terbatas terhadap setiap keinginan dan kepentingan rakyat, hingga terlalu bebasnya peraturan tersebut akan membuat sistem pemerintahan di Negara ini menjadi kacau karena selalu beralasan bahwa ini karena demokrasi. Kita pun sering merubah sistem demokrasi di Negara kita contohnya pada masa Ir. Soekarno kita menganut demokrasi liberal, lalu berubah menjadi demokrasi terpimpin yang kemudian jatuh setelah perstiwa G30S/PKI, dan terakhir menjadi demokrasi Pancasila.
            Negara kita bukanlah Amerika yang berkomitmen pada hak-hak individu sebagai suatu bangsa, karea demokrasi Indonesia sejak terbentuknya berkomitmen pada persatuan dan kesatuan berbagai suku, agama, dan ras sebagai satu bangsa. Namun memang tidak salah karena keduanya sama-sama meletakkan sistem pemerintahannya dalam kondisi parlementer dimana rakyat dianggap sebagai pemegang kekuasaan tertinggi,tapi biarlah Amerika menjamin setiap warga Amerika bergerak bebas sebagai seorang Amerika, dan seharusnya Indonesia menjamin setiap warga Indonesia bergerak bebas sebagai seorang Indonesia yang tetap berpegang teguh pada demokrasi Indonesia, bukan pada faham dan ajaran demokrasi orang amerika yang lebih menonjol pada liberalism.
            Secara nyata, kita memang sulit memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di Negara ini. Namun, biarlah kita merealisasikan dalam kehidupan kita terlebih dahulu contohnya dalam lingkungan keluarga. Dalam keluarga hendaknya sang imam tidak otoriter karena setiap anggota keluarga berhak menyampaikan pendapat. Karena itu, baiknya kita menghormat dan menghargai apa yang menjadi aspirasinya. Setelah dari keluarga, kita bisa merealisasikan demikrasi di masyarakat sekitar, baru kemudian pada lingkungan atau jaringan-jaringan yang lebih luas dan seterusnya.
            Pembicaraan tentang demokrasi memeng tidak akan ada akhirnya. Karena itu sebaiknya kita selaku warga Indonesia yang baik hendaknya menjalankan demokrasi ini sesuai dengan landasan-landasan yang telah di buat atau yang telah disepakati yang diantara landasan itu adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

irama dalam puisi


Resume Kajian Puisi “Irama dalam Puisi”
·         Pengertian
A.    Irama
1.      Irama merupakan bagian dari struktur fisik dalam kajian puisi.
2.      Irama dalam bahasa asing yaitu rhythm (ing), ritme (ind).
3.      Irama dalam bahasa adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur.
4.      Secara umum dapat disimpulkan bahwa irama itu pergantian berturut-turut secara teratur.

Menurut R.J. Pradopo, irama dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1.      Metrum
-          metrum jambis, tiap kaki sajak terdiri dari sebuah suku kata tak bertekanan diikuti suku kata yang bertekanan
-          metrum anapes, tiap kaki sajak terdiri dari tiga suku kata yang tak bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekan, kemudian diikuti suku kata yang bertekanan.
-          Metrum trochee atau trocheus, tiap kaki sajaknya terdiri dari suku kata yang bertekanan diikuti suku kata yang tak bertekanan.
2.      Ritme
      Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.


Timbulnya irama dalam puisi disebabkan oleh:
1.      Perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi.
2.      Adanya paralelisme-paralelisme, ulangan-ulangan kata dan ulangan-ulangan bait.
3.      Adanya tekanan kata yang bergantian keras lemah, yang disebabkan oleh sifat-sifat konsonan dan vokalnya atau panjang pendek kata juga disebabkan oleh kelompok-kelompok sintaksis: gatra atau kelompok kata.

Fungsi irama dalam puisi :
1.      Puisi terdengar merdu
2.      Mudah dibaca
3.      Menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji-imaji) yang jelas dan hidup.
4.      Menimbulkan pesona atau daya magis

B.     Melodi
·         Melodi adalah susunan deret suara yang teratur dan berirama (Kusbini, 1953:62)
·         Melodi timbul karena pergantian nada kata-katanya, tinggi rendah bunyi yang berturut-turut. Makin kuat melodi nyanyian kian liris sajak itu.
·         Bedanya melodi nyayian dengan puisi ialah terletak pada macam bunyi (nada) yang terdapat pada sajak itu tak seberapa banyaknya dan intervalnya (jarak nada) itu juga terbatas.
·         Irama, metrum, dan melodi itu bekerja sama dalam sajak hingga menghasilkan (merupakan) kesatuan yang indah padu

C.     Tekanan
1.      Tekanan dinamika; adalah tekanan pada kata yag terpenting, menjadi sari kalimat dan bait sajak.
2.      Tekanan nada; adalah tekanan tinggi (rendah). Perasaan marah, gembira, dan heran sering menaikan suara, sedang perasaan sedih menurunkan suara.
3.      Tekanan tempo; adalah cepat lambatnya pengucapan suku kata, kata, atau kalimat. 
Sumber:
1.      cahsasindo.blogspot.com/.../analisis-struktural-puisi-tak-pernah.html
2.      Pradopo, Rachmat  Djoko. 2009. Pengkajian Puisi . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

tipografi puisi


Kontribusi Topografi terhadap Kemaknaan Puisi Kongkret
            Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Bisa kita lihat pada beberapa puisi dari Sutardji Calzoum Bachri salah satunya adalah puisi di bawah ini.

TAPI
aku bawakan bunga padamu
                                       tapi kau bilang masih
aku bawakan resah padamu
                                       tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
                                       tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
                                       tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
                                       tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padmu
                                       tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
                                       tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
                                       wah!
Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK, 1981 
            Dengan tipografi  seperti di atas bisa kita simpulkan bahwa perwajahan puisi tersebut menggambarkan sebuah pertentangan antara “aku” dan “kau” sehingga apa pun yang dibawa oleh “aku” selalu kandas dan terjatuh (tak bermakna) di mata “aku” seperti digambarkan dalam baris puisi yang anjlok ke bawah dan menjorok ke dalam.  Tipografi barisnya yang anjlok dan menjorok ke dalam seolah menggambarkan bahwa apa yang dimiliki “aku” sangat diremehkan,  tidak ada apa-apanya dalam pandangan “kau”.  Selain itu, dengan adanya pemisahan antara baris “aku” dan “kau”, seolah menggambarkan bahwa percakapan dalam puisi itu terjadi dialog antara dua orang, baik antara seorang Budak dengan Tuannya, maupun Hamba dengan Tuhannya. Hal itu menggambarkan bahwa seorang hamba dengan Tuhannya tidak akan pernah sejajar.
            Sebenanya dengan tipografi seperti itu pembaca bisa mengartikan atau memaknai puisi tersebut sesuai dengan makna yang ditangkap oleh pembaca. Seperti yang diutarakan oleh Julia Kristeva bahwa arti sebuah puisi tidak terletak dari kata, seperti sesuatu yang dipikirkan atau dimaksudkan oleh pengarang, melainkan kata-kata itu menjadikan sebuah arti yang harus diusahakan dan diproduksi sendiri oleh pembaca. Bila terjadi perbedaan makna yang ditangkap oleh setiap pembaca, itu merupakan hal yang wajar karena puisi ekspresi dalam puisi itu bersifat tidak langsung. Seperti yang kita ketahui bahwa ketidaklangsungan tersebut disebabkan oleh penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Jadi semua orang berhak mengartikan apapun dari puisi siapa pun tak harus sesuai yang dimaksudkan oleh pengarangnya karena penyimpangan pemaknaan atau arti puisi itu merupakan salah satu sebab dari ketidaklangsungan ekspresi di dalam puisi.
            Selain dari penyimpangan arti, Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). Bisa kita lihat dalam puisi di atas dalam segi tipografi penyimpanagn grafologis sangat tampak jelas. Tidak tampak tanda baca baik titik maupun koma kecuali hanya tanda seru (!) pada kata terakhir yang menyatakan ketakjuban “kau”. Selain itu tidak ada huruf kapital yang mengawali awal kalimat kecuali hanya pada judul puisi. Sehingga kita bisa mengambil makna bahwa seorang manuasia (aku) janganlah merasa lebih besar (hebat) dari pada penciptanya. “kau” yang tidak diawali huruf kapital seperti layaknya huruf yang menggambarkan Tuhan, seolah meyakinkan manusi (aku) bahwa Tuhan tidak mengajarkan manusia untuk sombong jadi “aku” tidak menggunakan huruf kapital agar tidak melebihi “kau” (Tuhan).

contoh kajian puisi semiotik


NILAI MANUSIA DI MATA TUHANNYA DALAM PUISI “TAPI”(1)
Oleh: Iis Yasinta Apriani (2)

Abstrak  :    Puisi adalah suatu bentuk ekspresi dari pengalaman imajinatif yang disusun sedemikian rupa sehingga mampu menimbulkan kesan artistic atau estetik. Pengkajian puisi “Tapi” karya Sutardji Calzoum bachri ini bertujuan untuk mempermudah kita untuk menangkap makna yang terkandung di dalam puisi. Puisi “Tapi” menyiratkan penolakan yang kental akan sebuah kesungguhan dan kerendahan manusia di mata Tuhan. Bahwa manusia sampai kapan pun tak akan pernah bisa menyamai Tuhannya walau pun dengan menyerahkan jiwa dan raganya.
Kata kunci  :    Semiotik, Tuhan, isotopi, pakar, dan timbal balik.

PENDAHULUAN
            Bahasa merupakan medium utama dari karya sastra. Bahasa sebagai ujaran yang dihasilkan dari alat ucap manusia mengandung suatu kekuatan tanda di dalamnya. Kekuatan tanda itu muncul dari hubungan tanda dengan tanda (sintaksis), hubungan tanda dengan maknanya (semantik), dan hubungan tanda dengan pengguna (pragmatik). Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupkan sistem semiotic atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti.
            Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Semiotika modern mempunyai dua pakar terkenal yaitu Charles Shander Peirce dan Ferdinan de Saussure. Peirce mengusulkan kata semiotika yang sebenarnya telah digunakan oleh ahli filsafat jerman Lambert pada abad (XVII) sebagai sinonim kata logika. Dengan mengembangkan teori semiotika, Peirce memusatkan perhatian pada berfungsinya tanda pada umumnya. Ia memberi tempat penting pada tanda-tanda lingusitik, meskipun bukan hal yang utama. Sebaliknya Sausure mengembangkan dasar-dasar teori lingusitik umum. Kekhasan teorinya terletak pada kenyataan bahwa ia menganggap bahasa sebagai sistem tanda, dalam hal ini ia mengusulkan kata semiologi. Sausure menguraikan secara panjang lebar bahwa bahasa adalah system tanda  dan tanda merupakan kesatuan antara dua aspek yang tak terpisahkan satu sama lain: significant atau penanda dan signife atau petanda. Sebenarnya tidak ada perbedaan penting antara kata semiotika dan semiologi hanya saja keduanya mengacu pada orientasi yang berbeda. Dalam puisi ‘Tapi”, akan dikaji beberapa aspek yang di antaranya adalah dari segi sintaksis, semantic, dan pragmatic yang ada di dalam puisi tersebut.
TAPI
aku bawakan bunga padamu
                                       tapi kau bilang masih
aku bawakan resah padamu
                                       tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
                                       tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
                                       tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
                                       tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padmu
                                       tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
                                       tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
                                       wah!

                                                   Sutardji Calzoum Bachri,
                                                   1981 

ANALISIS TERHADAP PUISI “TAPI”
            Analisis secara sintaksis bisa kita lakukan dengan menghubungkan tanda-tanda yang ada di dalam puisi. Berangkat dari mengkaji judul puisi yaitu kata “Tapi”, kita bisa tahu bahwa kata “tapi” merupakan salah satu koordinator hubungan perlawanan selain dari melainkan dan namun. Menurut Sintaksis karangan Vismaia S. Damaianti dan Nunung Sitaresmi, hubungan perlawanan adalah hubungan yang menyatakan bahwa apa yang dinyatakan dalam klausa pertama berlawanan dengan apa yang terdapat dalam klausa kedua. Selain itu, bila kita melihat dari segi sintaksis yang berupa analisis terhadap satuan-satuan linguistik yaitu analisis yang dapat mengacu pada tata bahasa baku atau pedoman ejaan, tentu ada masalah yang bisa kita angkat bahwa puisi tersebut hampir setiap barisnya  tidak diawali oleh huruf kapital kecuali hanya pada judul saja dan puisi tersebut pun tidak diakhiri oleh titik layaknya ketetapan tanda baca dalam sebuah kalimat. Hanya ada tanda seru (!) pada kata  wah! Di akhir puisi.
            Bila kita perhatikan, setiap kalimat dalam puisi tersebut sangat berkesinambungan atau paralel. Bisa kita lihat dalam kalimat-kalimat yang tersurat sebelum kata “tapi” yaitu / aku bawakan bunga padamu /../aku bawakan resah padamu/../aku bawakan darahku padamu/../aku bawakan mimpiku padamu/../aku bawakan dukaku padamu/../aku bawakan mayatku padamu /../aku bawakan arwahku padamu/ semuanya diawali oleh kata “aku” yang merupakan subjek (S) dari sebuah kalimat. Kalimat-kalimat tersebut merupakan sebuah kalimat sempurna karena syarat dari kalimat semurna adalah sekurang-kurangya mengandung sebuah klausa. Kan kalimat tersebut jelas sebuah klausa karena setiap barisnya mengandung subjek (S) dan predikat (P). karena menurut konstruksi sintaksis, sebuak klausa harus mengadung unsure fungsional subjek dan predikat baik disertai objek, pelengkap, keterangan maupun tidak. Setiap baris dalam puisi tersebut terdapat kata “tapi” yang menyatakan penolakan akan apa yang diserahkan oleh si aku pada si kau. Jadi sudah jelas bahwa setiap puisi antara baris aku dan baris kau merupakan sebuah kalimat sempurna yang terdiri dari dua klausa karena ada partikel “tapi” sebagai konjungsi penghubung pertawanan antar klausa.
aku bawakan bunga padamu
                                       tapi kau bilang masih
Dan bila kita sebariskan menjadi aku bawakan bunga padamu tapi kau bilang masih. Kata “masih” dalam kalimat tadi mewakili setiap kalimat yang memang selalu diakhiri oleh ambiguitas.
            Puisi tersebut menggambarkan sebuah pertentangan antara aku dan kau sehingga apa pun yang dibawa oleh aku selalu kandas dan terjatuh (tak bermakna) di mata kau  seperti digambarkan dalam baris puisi yang anjlok ke bawah dan menjorok ke dalam.  Selain itu, dengan adanya pemisahan antara baris aku dan kau seolah menggambarkan bahwa percakapan dalam puisi itu terjadi dialog antara dua orang, baik antara seorang Budak dengan Tuannya, maupun Hamba dengan Tuhannya. Hal itu menggambarkan bahwa seorang hamba dengan Tuhannya tidak akan pernah sejajar. Bila kita menganalisis dari segi semantiknya, jelas seorang hamba tidak mungkin membawa bunga pada Tuhannya seperti pada baris pertama puisi aku bawakan bunga padamu. Kata bunga, resah, darah, mimpi, arwah, mayat, dan duka merupakan makna konotasi karena sejatinya seorang hamba tidak akan membawa hal-hal demikian saat menghadap dengan penciptanya. Selain itu, kata bilang yang tertera dalam puisi merupakan makna konotasi karena Tuhan biasanya menggunakan kata “firman”.
            Puisi ini pun menggunakan gaya bahasa yang salah satunya adalah hiperbola yaitu melebih-lebihkan. Bisa kita lihat dalam beberapa barisnya seperti aku bawakan mayatku padamu. Mana mungkin mayat kita sendiri bisa kita bawa sendiri kehadapn Tuhan kita. sungguh terlalu berlebihan. Begitupun terdapat ambiguitas dalam puisi ini seperti tapi kau bilang kalau. Kita tidak tahu “kalau” apa yang dikatakan oleh si kau. Untuk setiap kalimat yang dikembaliakan pada si aku, mengandung efony karena kombinasi “mu” yang terdapat pada kata “padamu”  yaitu /m/ yang merupakan salah satu huruf efony yang dikombinasikan dengan huruf vocal /u/ menimbulkan suara merdu juga suram. Akan tetapi untuk kalimat pada bagian si kau, banyak mengandung kakofoni seperti pada kata masih, meski, dan hampir. Kata- kata itu terdengar berdesis di telinga dan parau sehingga kombinasi hurufnya tidak enak didengar.
            Untuk analisis semantik yang berupa isotopi, dalam puisi “Tapi” karya Sutardji Calzoum Bachri ini kita bisa menyimpulkan tiga hal yaitu berupa isotopi manusi, isotopi kesakitan, dan isotopi usaha. Yang pertama untuk isotopi manusia, yaitu kata aku, kau, mayat, dan arwah. Untuk lebih jelasnya bisa kita rinci sebagai berikut ini. Kata aku dan kau merupakan kata ganti orang yaitu kata ganti orang pertama dan kata ganti orang ke dua. Namun kau  dalam puisi ini tidak akan masuk pada isotopi manusia jika kita maknai sebagai Tuhan karena tak layak jika Tuhan kita masukan pada kategori isotopi manusia. Mayat adalah bentuk jasad dari sebuah makhluk yang lebih kita kenal sebagai jasad dari manusia yang telah meninggal dunia. Sekalipun semua makhluk yang meninggal jasadnya di sebut mayat, namun dalam puisi ini si aku adalah manusia jadi mayat ini tentu mayat dari manusia. Arwah adalah roh atau barupa banda abstrak yang lebih kita kenal sebagai jiwa dari sebuah mahluk yang salah satunya dimiliki oleh makhluk hidup berupa manusia. Kata “arwah” bisa kita masukan pada isotopi manusia karena arwah yang tertera dalam puisi adalah arwah yang dibawa oleh si aku yang notabene adalah manusia.
            Isotopi kedua yaitu isotopi kesakitan. Isotopi kesakitan yang terdapat dalam puisi ini adalah resah dan duka. Kata resah adalah berupa sebuah perasaan galau atau gamang yang mendera hati manusia. Kata resah bisa kita golongkan dalam isotopi kesakitan karena resah itu membuat orang yang mengalaminya susah melakukan sesuatu karena dibebani oleh perasaan ini. Duka, kata ini merupakan kebalikan dari kata “suka”. Duka adalah ekspresi kepedihan dan kemuraman yang dialami manusia seperti saat kehilangan. Dan kata ini bisa kita golongkan dalam isotopi kesakitan karena duka ini akan membuat hati orang yang mengalaminya terasa sakit dan sedih.
            Isotopi yang ketiga yang terdapat dalam puisi tersebut adalah isotopi usaha. Beberapa kata yang bisa kita golongkan pada isotopi usaha adalah kata bawakan, bilang, dan datang. Bawakan merupakan kata kerja yaitu bawa yang berasal dari kata membawa yang mendapat imbukan –kan. Kata ini bisa kita golongkan pada isotopi usaha karena ini merupakan kata kerja. Kata bilang adalah kata yang biasanya dilakukan oleh lisan manusia dengan seperti kata berucap atau berbicara dan kata bilang pun masih kata kerja. Kata terakhira yaitau datang adalah kata kerja yang bisa dilakukan oleh manusia dan kata lainya adalah hadir atau tiba. Ini merupakan usaha untuk menuju suatu tempat.  
            Dengan menghubungkan antara tanda dengan penggunanya, kita bisa menyimpulkan aspek pragmatic yang terdapat dalam puisi tersebut. Seperti yang diutarakan oleh Julia Kristeva bahwa arti sebuah puisi tidak terletak dari kata, seperti sesuatu yang dipikirkan atau dimaksudkan oleh pengarang, melainkan kata-kata itu menjadikan sebuah arti yang harus diusahakan dan diproduksi sendiri oleh pembaca. Bila terjadi perbedaan makna yang ditangkap oleh setiap pembaca, itu merupakan hal yang wajar.
            Timbal balik yang ditimbulkan oleh puisi ini antara penulis dengan pembacanya yaitu penulis seolah ingin mengatakan dan member tahu pembaca bahwa kedudukan atau nilai manusia tidak akan pernah dilihat Tuhannya jika hanya menyombongkan diri dengan apa yang dimiliki manusia tersebut. Dalam puisi ini menceritakan tentang si aku yang setiap kali datang pada si kau selalu saja ada kekurangan dalam pandangan si kau. Dari semua aspek yang telah kita teliti, kita bisa mengambil makna bahwa seorang manuasia aku janganlah merasa lebih besar atau hebat dari pada Tuhannya. Kata kau yang tidak diawali huruf kapital seperti layaknya huruf yang menggambarkan Tuhan, seolah meyakinkan dan memberitahu manusia bahwa Tuhan tidak mengajarkan manusia untuk sombong jadi “aku” tidak menggunakan huruf kapital agar tidak melebihi “kau” (Tuhan).
            Nilai atau kedudukan manusia tidak akan pernah bisa menyamai Tuhannya. Nilai manusia dimata Tuhannya selalu saja rendah karena walau bagaimana pun manusia itu hanyalah makhluk dari salah satu makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Penulis ingin memberitahu lewat puisi ini dan menjelaskan pada kita bahwa hanya pada Tuhanlah manusia menumpahkan atau membawa semua yang ada dalam dirinya baik jasad yang berupa darah, mayat maupun arwah, juga segala rasa seperti resah dan duka seperti yang penulis sampaikan pada pembacanya lewat puisi tersebut. Timbal balik yang dihasilkan oleh puisi ini adalah timbale balik positif karena mengandung sebuah pelajaran yang berharga.

(1)       Tugas kajian semiotic ini disusun sebagai pengganti Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Kajian Puisi Indonesia yang diampu oleh Drs. Ma’mur Sadie, M. Pd dan Rudi A. Nugroho, S. Pd
(2)       Penulis adalah mahasiswa prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI angkatan 2009 dengan NIM 0902515