Tulisanku

Selasa, 22 Maret 2011

presentasi

harii ini presntasi, remmember..
deg degan banget rasanya, setiap orang suka gugup kalo maju tampil ke depan umum, kenapa kaya gitu ya?? kaya uji nyali...
gugup..

Selasa, 08 Maret 2011

Polemik Seputar Penyelenggaraan UN

Polemik Sekitar Penyelenggaraan Ujian Nasional Alias UN
Ujian Nasional biasa disingkat UN adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.
Proses pemantauan evaluasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan pada akhirnya akan dapat membenahi mutu pendidikan. Pembenahan mutu pendidikan dimulai dengan penentuan standar.
Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan. Yang di maksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas (cut off score). Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard setting.
Pro : UN itu harus tetap ada karena merupakan sarana evaluasi belajar siswa selama 3 tahun.
Kontra: sebaiknya UN itu ditiadakan karena fungsinya sebagai evaluasi belajar malah tidak berguna, lihat saja. Siswa belajar selama 3 tahun masa iya sih harus gagal melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi hanya karena gagal UN yang diselenggarakan selama 3 hari. Bagaimana jika kondisis saat itu tidak memungkinkan, kan kasihan kalo anak pandai tapi gak lulus.
Pro : Mungkin mental anak Indonesia saja yang terlalu ciut, masa hanya 6 pelajaran dari sekian pelajaran yang dipelajari selama 3 tahun harus ketar ketir sih, kan seandainya mereka beljar secara baik pasti mereka siap menghadapi UN yang hanya 3 hari.
Kontra : tapi UN hanya menjadi kegiatan yang menakutkan buat siswa, menjadi beban mental siswa, selain itu secara logika, yang mengetahui kualitas siswa adalah guru-guru mereka di sekolah, bukan pemerintah yang bahkan tidak tahu bagaimana proses belajar siswa di sekolah. Jadi kenapa tidak diserahkan kepada guru-guru atau lembaga sekolah saja yang menentukan standar kelulusan siswa mereka?? Mengapa soal harus dari pemerintah sedangkan yang mengajar itu guru di sekolah, bagaimana jika masih ada Bab yang belu dipelajari?
Pro : Tapi dengan UN kita bisa meningkatkan kualitas, mentalitas dan kognitif siswa di sekolah. lihat di Negara luar, standar kelulusan mereka jauh lebih tinggi dari standar yang berlaku di Negara kita. Untuk soal, pemerintah pasti sudah mempertimbangkan agar bisa seadil adilnya di berikan kepada siswa. Tidak terlalu sulit, juga tidak terlalu mudah.
Kontra : Jika demikian, mengapa UN itu hanya 6 mata pelajaran bagi ipa atau jurusan lainya, bukankah yang dipelajari selama 3 tahun itu lebih dari 6 mata pelajaran, jadi buat apa dipelajari jika yang difokuskan untuk UN hanya 6 mata pelajaran? Bukankah seolah-olah mata pelajaran lain terabaikan seperti file yang terbuang. Lalu bagaimana jika kemampuan siswa di luar 6 mata pelajaran yang di UN-kan, seperti di bidang agama, atau PKN, dan sebagainya?? Dan bukankah fasilitas yang menunjang setiap sekolah itu berbeda,? Bukankah proses belajar itu juga harus di tunjang sarana dan prasarana yang memadai?
Pro : Sebetulnya sistem itu sudah baik, setiap tahun ada revisi atau perbaikan agar sistem di indinesia bisa sesuai yang kita harapkan. Jadi mungkin pelaksanaannya saja yang masih ada kekeliruan sehingga masih ada kecurangan atau peyimpangan seperti joky UN atau kebocoran soal.
Kontra : Jika sistem sudah bagus, kenpa harus ada revisi setiap tahun? Bukankah itu hanya menjadi beban siswa seoalh mereka itu di fokuskan hanya pada UN. Selain tu mengapa tidak ada standar sistem pelaksanaan? Mengapa harus berubah setiap tahun sehingga siswa bingung. Seperti tahun ini yang kabarnya kode soal menjadi A-B-C-D-E, bukan hanya A-B seperti tahun sebelumnya? Dan dilihat dari pengayaan yaitu jam tambahan belajar bagi siswa. Bukankah itu menyita waktu dan tenaga? Memangnya efektif dan efisien bila setelah mereka belajar dari pagi sampai siang, lalu kembali belajar sampai sore, bukankah setiap siswa akan mengalami kepenatan?? Iya kalau jam tambahan tersebut bermanfaat dan siswanya menyimak pelajaran tersebut, jika hanya numpang hadir bagaimana??
Pro : tapi jika UN tidak ada, memang ada sistem yang lebih efektif sebagai penggantinya?/ lalu jika UN tidak ada, memangnya di jamin siswa-siswa itu akan mau belajar??

NB: Apa pendapat rekan-rekan mengenai penyelenggaraan UN??

Sabtu, 19 Februari 2011

contoh resensi

II.IDENTITAS BUKU
1. Judul : Welas Asih Merengkuh Tajali
2. Pengarang : Titis Basino P.I
3. Penerbit : PT. Grasindo
4. Kota Terbit : Jakarta
5. Tahun Terbit : 1997
6. Cetakan : ke-1
7. Ilustrasi sampul :
Depan : Didominasi oleh warna jingga dan kuning. Bagian bawah berwarna jingga hampir mendekati merah dan semakin ke atas semakin mendekati kuning cerah. Di pojok kanan atas ada tulisan “ GRASINDO ” berwarna biru muda “ TITIS BASINO P.I “ di tengah atas dengan tulisan berwarna merah marun, dan di bawahnya ada tulisan judul “ WELAS ASIH MERENGKUH TAJALI “ berwarna putih. Di bawah judul ada gambar rumput laut berwarna hijau, ujung rumput laut itu seperti memudar dalam warna kuning pucat. Dan di tengah paling bawah ada tulisan “ PT. GRAMEDIA WIDIASARANA INDONESIA , JAKARTA “ berwarna putih
Belakang : sama seperti sampul depan, sampul belakang pun didominasi warna jingga dan kuning. Bagian paling bawah berwarna jingga hampir mendekati merah dan semakin ke atas semakin mendekati kuning cerah. Tulisan judul berwarna putih di bagian paling atas tengah dan di bawahnya adalah synopsis singkat dari isi buku dengan tulisan berwarna hitam. Sinopsis singkat itu disertai komentar – komentar dari Pamusuk Eneste dan Dr. Syaiful Ichwan dan diletakan dalam kotak yang membikai sinopsis.
Di bagian paling bawah sebelah kiri ada tulisan “ Grasindo” berwarna biru muda, “mitra terpercaya kalangan pendidikan “ berwarna kuning dan alamat penerbit berwarna putih.
Sedangkan di pojok kanan bawah ada tulisan “ISBN 979-669-257-0” berwarna putih.

III. CARA MEMBACA
1. Waktu : Saya membaca buku ini pada hari minggu 17 oktober 2009 pukul 19.30 wib sebanyak 7 bab dan di lanjutkan keesokan harinya pukul 07.30 wib dari bab 8 sampai bab terakhir.
2. Memahami : saya dapat memahami isi cerita bab 1 dan 2 saya sampai bab 3 karena sebelumnya saya tidak mengerti bagaimana ceritanya. Selanjutnya saya tidak terlalu sulit memahami apa yang diceritakan si pengarang.

VI. SINOPSIS
Ceritanya tentang tokoh aku yang kehilangan suami dan kekasihnya yang hilang ditanah suci. Tokoh aku adalah seorang janda berusia 60 tahun namun masih tampak muda seperti wanita 30 tahunan. Dia mengelola wisma Pengurusan dan Penyegaran Otak, yang dinamai “Penyegar Kafilah gurun ‘’
Di wisma itu disediakan pelayan khusus bagi pengunjug yang selalu membuat mereka puas dan dia selalu kenbanjiran uang. Semua itu dia lakukan untuk mengobati rasa kehilangannya.
Suatu hari, seorang bule arab datang ke wismanya. Dia tertegun. Bule itu seperti orang yang dirindukannya, yang selalu dicariny saat hilang. Wajah bule itu memang tidak mirip Ahmad kekasihnya yang hilang , akan tetapi sifatnya sama. Lebih anehnya lagi orang itu sangat mirip almarhum suaminya.
Setelah bule itu mendekatinya, barulah dia tahu bahwa itu benar-benar Ahmad yang berganti nama menjadi Hamid. Saat tokoh aku bertanya alasan Hamid, ternyata Hamid sengaja menghilang dan mengubah jati dirinya untuk tokoh aku. Semua itu hamid lakukan hanya untuk tokoh aku karena Hamid sangat menyayanginya. Hamid membelikanya rumah, perhiasan, dan semua yang dinginkan tokoh aku.
Hamid selalu menyebut tokoh aku bidadari dari kayangan. Pria itu meninggalkan istri dan berpura-pura hilang agar dia bisa membahagiakan tokoh aku dan selalu bersamanya tanpa ada pergunjingan dan cemoohan dari orang sekitar mereka.
Tokoh aku sebenarnya sudah mempunyai anak cucu tapi memang selalu terlihat muda dan elegan. Ketika keduanya di Bali perasaan keduanya terungkap, tokoh aku sangat dimanja Hamid.
“Kau menikmati perjalan ini ?”
“Ya, terutama supirnya “.
“kenapa tidak keindahan pulau ini?”
“karena supirnya lebih magis, lebih indah duduk di belakang mobilnya…”.
“mengapa, narah, kecolongan, tertipu lagi ?
“Tidak, hanya lama-lama kau seperti orang lain,
Jangan-jangan kau bukan orang yang dulu hilang “.
“kalau ya, bagaimana?”
“mengerikan aku lebih senang turun di sini dan pulang”
“bener nih?”
“Hamid, pelan donk, seperti mengejar setan saja”
“oh, aku lupa kalau di sebelahku ada nenek yang penakut”.
“iya boleh saja aku nenek, tapi aku tidak penakut, Kek”.
“kau menyebutku kakek? Kalau begitu kita pasangan tua
Yang serasi dong, makin tua makin keren”.
Begitulah, selalu ada canda di antara keduanya sampai suatu malam Hamid marah karena tokoh aku berdansa dengan pria lain. Tetapi keadaan seperti itu tidak berlangsung lama karena keduanya sudah sangat matang dalam menjalani hidup.
Keadaan ceria itu berubah saat Hamid dibawa kerumah karena kecelakaan saat berenang. Tokoh aku sangat khawatir sampai kesokan harinya dia tertidur kelelahan setelah tahajud dan berdoa semalaman.
Tapi ternyata, semuanya pura-pura. Itu cara Hamid melihat welas asih tokoh aku dan keadaan pun kembali ceria sampai mereka pulang keduanya menjalani kehidupan masing-masing. Keduanya sering bertemu tapi tak ada rencana untuk menikah karena yang terpenting bagi keduanya adalah saling memahami dan hati mereka tetap menyatu.
“kami kembali ke Jakarta, kembali menekuni hidup duniawi yang kami pilih sesuai kesenangan kami masing-masing. Tiap dia datang selalu mengingatkan jalanku harus lurus, agar roh ini nanti lapang menuju arsy. Kami tidak perlu berbicara cinta, karena kami berdua adalah cinta itu sendiri. Tak pernah saling rindu, karena di sana kami akan menyatu, sabar kami menanti. Indahnya maut kala menjemput hidup.”




V. TANGGAPAN
1. Segi Bahasa
Bahasanya sangat mudah dipahami, tidak ada kata-kata yang sulit, cukup mudah dicerna dan dimaknai.

2. Isi
Keseluruhan bagus, ada sisi religiusnya juga makna hidup yang harus kita selami
- Bahwa dalam sebuah hubungan harus saling menghormati, memahami, dan tidak merugikan salah satunya.
- Percintaan bukan hanya milik remaja 17 tahunan tapi semua umur.
- Harus selalu memegang norma-norma dan memperhatikan tanggapan orang lain disekitar kita.
- Kehidupan dunia dan akhirat harus seimbang.
Beberapa sisi negatif cerita ini adalah bahwa tidak seharusnya seorang suami lari dari tanggung jawab dan memilih orang lain yang belum jelas ikatannya. Tentang tokoh aku yang menyediakan wanita muda untuk pengunjung wisma sehingga cenderung seperti tempat maksiat sedangkan dia sosok berkerudung.
Buku ini seperti menceritakan seorang wanita berkerudung yang haus uang. Seperti dalam penggalan dibawah ini:
“…. Bukan karena lelahnya si bapak, tapi karena segan melihat istrinya yang tidak seperti pendampingnya di wismaku”.
3. Rekomendasi
Buku ini sebaiknya tidak dibaca oleh orang dewasa yang berpasangan karena ditakutkan akan mencontoh jalan ceritanya.

learning strategies

One of factor wich can be applicated in study foreign language is learning strategies. Learning strategies is a stages for make a learner active in study and direct implicated in studying process or in language classes.
According to Oxford (1990:8), learning strategies is one of the method wich used with learner in getting, founding, saving, traying, and using the information. Beside that function, learning strategies is activities wich can make learning process easier, faster or quickly, gratify, purpose and affective. And according to O’Malley (Brown 1994:115-118) there are three kinds of the English learning strategies. The first is metacognitive strategies, the second is cognitive strategies, and the last socio-affective strategies.
Metacogninitive strategies is indirect learning strategies. This strategiesis emphasize the important consentration for learner, functional planning, selp monitoring, self evaluation and also evaluating this strategies. And this strategies call as basic strategies.
And the next is Cognitive strategies. Referring to Gagne, cognitive strategies are internal skill of people to thinking , to finishing or overing the problem, and take a choice. Cognitive strategies’s skill, make the thinking process unique in analising, in finishing the problem, and in taking or choosing the choice. there are many grains in this strategi such as knowing, comprehending, applying, analizing, evaluating, repeating, imitating, comparing, analogy, classifying, and note taking. And five point in the first enter to thinking level. Piaget said that cognitive function consist of four factor, self-controling, physical area, maturity, and social effect.
And the next strategies is socio-affective strategies. This last strategies included the emotion, attitude, motivation, and spirit value in learning process. And back to Oxford (1990:141)teory , there are three steps for using socio-affective strategies in learning. The learner can decrease the worried by listening the music,laughing, and meditation after studying; organize self-emotion; positive thinking; confidence; and discussion with friends when have some problem or question.
So the most important one except the strategies when the learner study is teacher figure. The teacher not only as the instructure but also as a fasilitator,consultan, must help learner when get the problem wich be related with learning process, manager or director, adviser (counselor), and founder of an idea. And the prime role of teacher is focus to learner. This strategies helps the learner for make the best or optimum in study until get the best result in study.
But according to Oxford (1990:14), just mention two learning strategies. The first is direct learning strategies wich devide to three strategies, there are memorizing strategies, cognitive strategies, and compensation strategies. And the second is indirect learning strategies wich also have the important role in learning. Some of factors in this indirect strategies related to cognitive, affective or learner feelling, an social factor of learner.

Kamis, 03 Februari 2011

strategi Belajar Bahasa

Learning Strategies

One of factor wich can be applicated in study foreign language is learning strategies. Learning strategies is a stages for make a learner active in study and direct implicated in studying process or in language classes.
According to Oxford (1990:8), learning strategies is one of the method wich used with learner in getting, founding, saving, traying, and using the information. Beside that function, learning strategies is activities wich can make learning process easier, faster or quickly, gratify, purpose and affective. And according to O’Malley (Brown 1994:115-118) there are three kinds of the English learning strategies. The first is metacognitive strategies, the second is cognitive strategies, and the last socio-affective strategies.
Metacogninitive strategies is indirect learning strategies. This strategiesis emphasize the important consentration for learner, functional planning, selp monitoring, self evaluation and also evaluating this strategies. And this strategies call as basic strategies.
And the next is Cognitive strategies. Referring to Gagne, cognitive strategies are internal skill of people to thinking , to finishing or overing the problem, and take a choice. Cognitive strategies’s skill, make the thinking process unique in analising, in finishing the problem, and in taking or choosing the choice. there are many grains in this strategi such as knowing, comprehending, applying, analizing, evaluating, repeating, imitating, comparing, analogy, classifying, and note taking. And five point in the first enter to thinking level. Piaget said that cognitive function consist of four factor, self-controling, physical area, maturity, and social effect.
And the next strategies is socio-affective strategies. This last strategies included the emotion, attitude, motivation, and spirit value in learning process. And back to Oxford (1990:141)teory , there are three steps for using socio-affective strategies in learning. The learner can decrease the worried by listening the music,laughing, and meditation after studying; organize self-emotion; positive thinking; confidence; and discussion with friends when have some problem or question.
So the most important one except the strategies when the learner study is teacher figure. The teacher not only as the instructure but also as a fasilitator,consultan, must help learner when get the problem wich be related with learning process, manager or director, adviser (counselor), and founder of an idea. And the prime role of teacher is focus to learner. This strategies helps the learner for make the best or optimum in study until get the best result in study.
But according to Oxford (1990:14), just mention two learning strategies. The first is direct learning strategies wich devide to three strategies, there are memorizing strategies, cognitive strategies, and compensation strategies. And the second is indirect learning strategies wich also have the important role in learning. Some of factors in this indirect strategies related to cognitive, affective or learner feelling, an social factor of learner.

Rabu, 12 Januari 2011

Drama karya William shakespeare

DRAMA A MIDSUMMER NIGHT’S DREAM KARYA WILLIAM SHAKESPEARE
A. Profil Dramawan
William Shakespeare adalah penyair, penulis naskah drama, sekaligus aktor dari Inggris yang diakui sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah umat manusia. William Shakepeare lahir di Stratford-upon-Avon, sebuah kota kecil yang terkenal dengan produksi malt-nya dan dibaptis pada tanggal 26 April 1564. Shakespeare adalah anak tertua dari Mary Arden, anak perempuan seorang tuan-tanah lokal. Sedangkan suaminya, John Shakespeare (1530-1601) adalah seorang pengrajin sarung tangan sekaligus pengusaha di bidang perkayuan. Pada tahun 1568 John Shakespeare terpilih sebagai walikota Stanford. Shakespeare diperkirakan memperoleh pendidikan di Stratford grammar School, dan mungkin ia menghabiskan periode 1580-1582 sebagai guru untuk Keluarga Katolik Roma Houghton di Lancashire. Pada usia 18 tahun, Shakespeare menikahi gadis setempat bernama Anne Hathaway (meninggal pada tahun 1623) yang berusia delapan tahun lebih tua. Anak pertamanya, Susannah, lahir dalam enam bulan, dan pada tahun 1585 si kembar Hamnet dan Judith lahir. Hamnet, satu-satunya anak lelaki Shakespeare, meninggal pada tahun 1596 pada usia 11 tahun.
Kebanyakan penulis biografi sepakat bahwa Shakespeare mungkin telah dididik di King's New School di Stratford, sewaan sekolah gratis pada tahun 1553, sekitar seperempat mil dari rumahnya.
Tidak diketahui pasti kapan Shakespeare mulai menulis, tapi sindiran kontemporer dan catatan pertunjukan menunjukkan bahwa beberapa drama-dramanya itu dipertunjukkan di London pada 1592. Penulis biografi mengatakan bahwa karirnya mungkin telah dimulai dari pertengahan 1580-an. Sejak 1594, karya Shakespeare itu dipertunjukkan hanya oleh Lord Chamberlain's Men, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh sekelompok pemain, termasuk Shakespeare, yang segera menjadi perusahaan terkemuka di London.
Catatan bahwa Shakespeare membeli properti dan investasi menunjukkan bahwa perusahaan membuatnya kaya. Pada tahun 1597, ia membeli rumah terbesar kedua di Stratford, New Place. Pada tahun 1709, Shakespeare memainkan hantu ayah Hamlet. Kemudian dia juga bermain sebagai Adam dalam As You Like It dan Koor di Henry V.
Shakespeare meninggal pada tanggal 23 April 1616 dengan meninggalkan seorang istri dan dua putri. Shakespeare dimakamkan di mimbar dari Gereja Tritunggal Mahakudus dua hari setelah kematiannya.
Pada saat Romeo and Juliet, Richard II, dan A Midsummer Night's Dream di pertengahan 1590-an, Shakespeare mulai menulis puisi. Karya Shakespeare telah membuat kesan mendalam dalam kehidupan teater dan sastra. Secara khusus, ia memperluas potensi karakterisasi dramatis, plot, bahasa, dan genre. Sampai Romeo dan Juliet, misalnya, asmara tidak dipandang sebagai topik yang layak untuk tragedi. Soliloquy telah digunakan terutama untuk menyampaikan informasi tentang karakter atau peristiwa, tetapi Shakespeare menggunakannya untuk mengeksplorasi karakter pikiran.
Semua anggota keluarga Shakespeare Katolik. Ibu Shakespeare, Mary Arden, pasti berasal dari keluarga Katolik yang saleh. Bukti yang paling kuat mungkin pernyataan iman Katolik yang ditandatangani oleh John Shakespeare, ditemukan tahun 1757 di kasau rumah mantan di Henley Street.
Beberapa karya Shakespeare, seperti Romeo dan Juliet, termasuk sebagai karya sastra paling terkenal di seluruh dunia. Menurut para numerologis, Shakespeare menulis Bible versi King James pada usia 46 tahun.
Saat Shakespeare berusia 15 tahun, seorang wanita dari desa tetangga tenggelam di Sungai Avon. Kematiannya diyakini disebabkan oleh kecelakaan, tapi mungkin pula kejadian itu merupakan suatu upaya bunuh diri. Hal ini kemudian diangkat oleh Shakespeare dalam Hamlet, dengan meninggalkan pertanyaan di akhir cerita tentang penyebab kematian Ophelia, apakah karena kecelakaan, atau karena bunuh diri. Hamlet dicetak pertama kali pada tahun 1603. Hamlet adalah karya drama terbesar Shakespeare.
1. Karya yang bertema komedi
a. All's Well That Ends Well
b. As You Like It As You Like It
c. The Comedy of Errors
d. Love's Labour's Lost
e. Measure for Measure
f. The Merchant of Venice
g. The Merry Wives of Windsor
h. A Midsummer Night's Dream
i. Much Ado About Nothing
j. Pericles, Prince of Tyre
k. The Taming of the Shrew
l. The Tempest
m. Twelfth Night
n. The Two Gentlemen of Verona
o. The Two Noble Kinsmen
p. The Winter's Tale
2. Karya yang bertema sejarah
a. King John
b. Richard II
c. Henry IV, bagian 1
d. Henry IV, bagian 2
e. Henry V Henry V
f. Henry VI, bagian 1 †
g. Henry VI, bagian 2
h. Henry VI, bagian 3
i. Richard III
j. Henry VIII
3. Karya yang bertema tragedi
a. Romeo and Juliet
b. Coriolanus
c. Titus Andronicus
d. Timon of Athens
e. Julius Caesar
f. Macbeth
g. Hamlet
h. Troilus and Cressida
i. King Lear
j. Othello
k. Antony and Cleopatra
l. Cymbeline
4. Puisi
a. Shakespeare's Sonnets
b. Venus and Adonis
c. The Rape of Lucrece
d. The Passionate Pilgrim [e]
e. The Phoenix and the Turtle
f. A Lover's Complaint
g. Lost plays
h. Love's Labour's Won
i. Cardenio
j. Apocrypha
k. Arden of Faversham
l. The Birth of Merlin
m. Locrine
n. The London Prodigal
o. The Puritan
p. The Second Maiden's Tragedy
q. Sir John Oldcastle
r. Thomas Lord Cromwell
s. A Yorkshire Tragedy
t. Edward III
u. Sir Thomas More
B. Sinopsis Naskah Drama
Hermia dan Lysander adalah pasangan yang saling mencintai. Namun, ada seorang pemuda yang juga mencintai Hermia, Demetrius namanya. Padahal, Demetrius telah dicintai Helena, seorang gadis yang juga merupakan sahabat Hermia. Menurut hukum Athena, seorang ayah dapat memutuskan putrinya menikah dengan siapa. Jika ia tidak taat, dia mungkin dihukum mati atau diperintahkan untuk mengabdi di sebuah biara selama sisa hidupnya. Ketika sadar ayahnya telah memilih Demetrius untuk menjadi calon suaminya, Hermia merencanakan kawin lari dengan Lysander untuk kabur ke tempat bibi Lysander yang telah menganggapnya sebagai anak.
Hermia menceritakan rencananya kepada Helena, yang sebelumnya telah ditolak cintanya oleh Demetrius. Kemudian Helena memberitahukan rencana tersebut kepada Demetrius. Ia beranggapan bahwa dengan melihat Hermia berdua dengan Lysander, Demetrius akan membencinya dan akan berpaling mencintai dirinya. Namun, dugaannya salah. Mendengar Hermia akan kabur dengan Lysander, Demetrius mengejar mereka ke hutan dan Helena mengikutinya.
Saat malam tiba, Lysander dan Hermia yang merasa aman setelah tiba di hutan, tertidur pulas. Demetrius dan Helena juga berada di hutan itu mencari Lysander dan Hermia. Demetrius merasa terganggu karena diikuti oleh Helena ke manapun ia pergi. Perlakuan kasar Demetrius terhadap Helena itu dilihat oleh Oberon, sang raja peri.
Oberon dan Titania berada di hutan di luar Athena. Titania ingin menghadiri pernikahan Theseus dan Hippolyta, yang merupakan raja Athena. Mereka bersitegang saat Titania menolak untuk menyerahkan seorang anak Indian kepadanya yang akan Oberon jadikan sebagai ksatria, karena ibu dari anak itu memuja Titania. Kesal, Oberon memerintahkan Puck untuk mengambil sejenis bunga ajaib yang bila dioleskan ke mata seseorang yang sedang tidur akan membuat orang itu jatuh cinta pada makhluk pertama yang dilihatnya saat membuka mata. Selain itu Oberon juga memerintahkan Puck untuk mencari Demetrius dan mengoles matanya dengan bunga itu agar jatuh cinta pada Helena.
Namun Puck membuat kesalahan dengan mengoleskan bunga itu ke mata Lysander. Ketika Lysander bangun, orang pertama yang ia lihat adalah Helena yang sedang tersesat di hutan. Lysander pun jatuh cinta pada Helena dan meninggalkan Hermia yang masih tertidur. Ketika Oberon melihat hal ini, ia memarahi Puck dan menyuruhnya untuk mencari Demetrius sekali lagi. Demetrius pun terkena pengaruh bunga itu dan jatuh cinta pada Helena.
Hermia yang ditinggalkan sendiri bangun dan mencari kekasihnya, Lysander. Ketika menemukan Lysander, ia ditolak mentah-mentah karena Lysander terkena sihir dan jatuh cinta pada Helena. Helena merasa curiga karena tiba-tiba dirayu oleh dua orang laki-laki, dan mengira bahwa ini adalah permainan Lysander, Demetrius, dan Hermia untuk memperolok-oloknya.
Kembali di desa, sekelompok orang dengan kelas sosial yang rendah merencanakan untuk mempertunjukkan drama sandiwara "Pyramus dan Thisbe" untuk memeriahkan pernikahan Theseus. Mereka berlatih di hutan, dekat tempat tinggal Titania. Puck melihat Nick Bottom yang akan memerankan Pyramus, mengutuknya hingga kepala Bottom berubah menjadi kepala keledai. Teman-temannya takut lalu kabur meninggalkannya sendiri. Bottom adalah orang pertama yang Titania lihat ketika ia bangun dari tidurnya. Maka ia pun jatuh cinta pada Bottom itu dan memanjakannya dengan semua peri-perinya.
Dengan pengaruh bunga itu, Titania dengan mudahnya memberikan bocah Indian itu pada Oberon. Karena keinginannya sudah tercapai, Oberon membebaskan Titania dari sihir dan menyuruh Puck untuk mengubah kepala keledai Bottom seperti semula. Dengan ini sihir pada Lysander pun hilang, namun Demetrius menjadi jatuh cinta pada Helena sekalipun sihir itu hilang.
Mengingat Demetrius tidak mencintai Hermia lagi, Theseus menyuruh Egeus untuk mengatur pernikahan bagi kedua pasangan itu. Hermia, Lysander, Demetrius dan Helena sepakat untuk menganggap apa yang terjadi semalam adalah mimpi karena terasa begitu tidak nyata. Setelah mereka keluar dari hutan, Bottom yang terbangun pun memutuskan untuk menganggap kejadian semalam adalah mimpi juga.
Di Athena, Theseus dan Hippolyta bersama kedua pasangan Hermia-Lysander dan Helena-Demetrius, menonton pertunjukkan "Pyramus dan Thisbe". Itu adalah pertunjukkan yang konyol dan jelek, namun menghibur mereka semua. Di akhir cerita, Oberon, Titania, Puck dan para peri lainnya memberkati rumah yang ditinggali ketiga pasangan itu dengan kecukupan dan keberuntungan.




BAB III
APRESIASI DRAMA A MIDSUMMER NIGHT’S DREAM
KARYA WILLIAM SHAKESPEARE
A. Apresiasi Tokoh dan Penokohan
- Hermia, wanita bangasawan dari Athena
- Lysander, kekasih Hermia
- Demetrius, seorang lelaki terhormat yang jatuh cinta pada Hermia
- Helena, sahabat karib Hermia yang jatuh cinta pada Demetrius
- Egeus, ayah Hermia
- Theseus, Raja Athena
- Hippolyta, calon Ratu Athena, istri Theseus
- Bottom, actor sandiwara dari kelas rendah
- Puck, pelayan Oberon
- Oberon, Raja para peri
- Titania, Ratu para peri
B. Apresiasi Alur dan Pengaluran
Alur utama Midsummer adalah lelucon yang kompleks yang melibatkan dua set pasangan (Hermia-Lysander dan Helena-Demetrius) yang romantis.
1. Ketidaksetujuan ayah Hermia dengan Lysander dan menjodohkannya dengan Demetrius.
2. Kaburnya Hermia dengan Lysander.
3. Penyusulan Hermia dengan Demetrius ke hutan.
4. Perlakuan kasar Demetrius kepada Helena dan dilihat Oberon.
5. Perebutan anak Indian antara Oberon dengan Titania.
6. Perintah Oberon kepada Puck untuk mengambil bunga ajaib.
7. Kesalahan Puck mengolesi bunga ajaib ke mata Lysander.
8. Jatuh cintanya Lysander pada Helena.
9. Perintah Oberon kepada Puck untuk mengolesi bunga ajaib kembali ke mata Demetrius.
10. Jatuh cintanya Demetrius kepada Helena.
11. Kejailan Puck mengubah kepala Bottom menjadi keledai.
12. Terbangunnya Titania dan melihat Bottom.
13. Jatuh cintanya Titania kepada Bottom.
14. Penyerahan anak Indian kepada Oberon.
15. Perintah Oberon untuk menghapus semua sihir.
16. Pernikahan Lysander-Hermia dan Demetrus-Helena.
C. Apresiasi Latar
Drama A Midsummer Night’s Dream terjadi di Yunani pada masa Athena kuno. Setting yang banyak tergambar dalam drama tersebut yaitu hutan di luar Athena. Selain itu, terdapat juga beberapa adegan yang terjadi di kerajaan Athena sendiri, yaitu ketika Raja Athena, Theseus, menggelar pesta pernikahannya dengan mengadakan pertunjukan “Pyramus dan Thisbe”.
D. Apresiasi Nilai-nilai dalam Drama
Dalam drama A Midsummer Night’s Dream terdapat nilai-nilai yang terkandung, yaitu:
1. Nilai sosial
Drama A Midsummer Night’s Dream mengandung nilai sosial, yaitu:
a. rasa kebersamaan atau toleransi dan keinginan untuk menciptakan kedamaian bersama.
b. jangan membeda-bedakan atau menilai seesorang dari status sosialnya, karena manusia itu sama di hadapan Tuhan.
c. jangan mengganggu hubungan orang lain karena tidak baik.
d. untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, jangan melakukannya dengan cara yang licik ayau dengan menyakiti orang lain.
2. Nilai budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam drama ini, yaitu seorang anak harus mengikuti perintah menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya. Jika tidak, ia akan menjadi biarawati atau dihukum mati.
3. Nilai agama
Drama ini seolah memberi amanat nilai agama, yaitu jangan melawan orang tua. Sebagai anak, harus mematuhi perintah orangtua. Tapi, untuk kawin lari itu tidak baik, walaupun demi membela cinta.
4. Nilai estetika
Nilai estetika yang terkandung dalam drama ini yaitu keindahan dan keunikan pengarang dalam mengungkapkan ceritanya. Ia menggunakan bahasa yang metaphor, yaitu menggunakan bahasa kiasan.
E. Kelebihan Drama
1. Drama A Midsummer Night’s Dream mempunyai kelebihan dibandingkan dengan drama lainnya. Dapat dilihat dari segi penyampaiannya, drama ini menggunakan bahasa yang membuat penonton atau pembaca menjadi terhibur dan tertarik untuk mengapresiasinya, karena terdapat bahasa-bahasa sastra yang menambah nilai kelebihannya.
2. Jika dipandang dari sisi keunikannya, drama ini bertema tentang kekuatan cinta. Jika tetap dipertahankan dan diperjuangkan, cinta akan menang melawan hambatan dan rintangan apa pun. Namun, keunikan drama ini tidak sebatas itu saja. Meskipun tema yang diangkat adalah tentang percintaan, namun drama ini dibubuhi dengan kelucuan dari para tokohnya.
3. Ketika Puck salah mengolesi bunga ajaib ke mata Demetrius dan jail dengan sengaja mengubah kepala Bottom menjadi keledai, membuat drama ini semakin hidup sehingga imajinasi kesan yang timbul dari pembaca/penonton adalah tema tentang kelucuan dan kejailan.

Contoh Penilaian Buku Teks

PENILAIAN BUKU TEKS INSTRUMEN 1
A. Kelayakan Isi
1. Kesesuaian Uraian Materi dengan SK dan KD
a. Kelengkapan materi
Materi yang disajikan buku teks Bahasa Indonesia kelas XII semester 2 yang ditulis oleh Iis Wiati, S.Pd. ini sudah sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang ditetapkan pemerintah. Uraian materi di dalam wacana dirancang sesuai dengan tuntutan untuk pencapaian SK dan KD berdasarkan ruang lingkup empat aspek keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, mulai dari pengenalan konsep mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA.
Buku yang baik memang harus memenuhi tuntutan SK dan KD, dan buku ini telah mencapai kelengkapan tersebut berdasarkan kelayakan isinya. Kelayakan buku teks bergantung pada isi yang dimuat di dalamnya. Maka dari itu, buku teks harus menyesuaikan dengan tuntutan yang telah ditetapkan.
b. Kedalaman materi
Sebagian besar materi yang ada dalam buku ini belum dijelaskan secara terperinci, kadang hanya butir-butir pentingnya sehingga kurang mendalami materi. Sedangkan pemilihan bentuk, kesesuaian, dan variasi wacana mencerminkan kedalaman materi.
Begitu pun dengan tingkat kesulitan dan kekompleksan wacana, harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik.
2. Keakuratan Materi
a. Keakuratan dalam pemilihan wacana
Dalam buku ini, wacana yang dipilih sudah sesuai dengan bahasan materi. Sebagian besar wacana mencantumkan sumber yang menguatkan keakuratan berita dalam wacana tersebut. Namun, pada wacana bagian informasi masih ada yang tidak mencantumkan sumber wacana sehingga kurang meyakinkan keakuratannya.
Buku ini juga mengandung uraian materi yang sesuai dengan kenyataan yang ada dan sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik.
b. Keakuratan dalam konsep dan teori
Konsep dan teori yang disajikan untuk mencapai Kompetensi Dasar sesuai dengan definisi yang berlaku dalam bidang ilmu bahasa (linguistik) dan ilmu sastra, digunakan secara tepat sesuai dengan fenomena yang dibahas, dan tidak menimbulkan banyak tafsir.
Dalam buku teks karya Iis Wiati, S.Pd. ini, konsep teori yang disajikan cukup baik, namun masih ada definisi-definisi yang dapat menimbulkan pemahaman yang lain.
c. Keakuratan dalam pemilihan contoh
Pemilihan contoh dari tiap materi dalam buku teks ini sebagian besar sudah cukup baik. Contoh-contohnya dapat mudah dibayangkan dan dimengerti peserta didik.
Uraian dan contoh menanamkan keruntutan konsep dari yang mudah ke sukar, dari yang konkret ke abstrak, dari yang sederhana ke kompleks, dari yang telah dikenal sampai pengembangannya. Contoh yang disajikan pun mengandung keunggulan nilai-nila moral, seperti keteladanan, kejujuran, tanggungjawab, kedisiplinan, kerjasama, dan toleransi.
d. Keakuratan dalam pelatihan
Pelatihan-pelatihan sudah mengukur kemampuan penguasaan materi peserta didik. Pelatihan yang diberikan dilakukan yaitu dengan cara mengerjakannya secara individu atau diskusi kelompok.
3. Pendukung Materi Pembelajaran
a. Kesesuaian dengan perkembangan ilmu
Dalam buku ini, pendukung materi sudah sesuai dengan materi pembelajaran, tetapi ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan perkembangan ilmu masa kini.
Sedangkan deskripsi tentang kesesuaian materi dengan perkembangan ilmu, yaitu bahwa materi yang disajikan bernilai kekinian (up to date) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks) yang relevan dengan tingkat pemahaman peserta didik. Itulah yang menyebabkan kurangnya nilai kelayakan buku teks tersebut.


b. Kesesuaian fitur/contoh/latihan/rujukan
Fitur/contoh/latihan mencerminkan peristiwa dan kejadian yang ada. Rujukan yang digunakan menarik dan sesuai dengan materi yang dibahas. Di dalamnya terdapat peristiwa, kejadian, dan kondisi yang kontekstual. Hal ini menunjang keberhasilan penuisan dan penyusunan buku teks tersebut.
c. Pengembangan wawasan kebinekaan
Materi, latihan, atau contoh yang menunjukkan pengembangan wawasan kebinekaan sangat banyak, terutama terlihat pada wacana yang mempunyai wawasan nusantara yang luas.
Hal tersebut di atas dapat membimbing peserta didik untuk mengenal dan menghargai perbedaan budaya, pendapat, penampilan, dan peninggalan leluhur budaya bangsa, mengenal persebaran keanekaragaman alam dan makhluk hidup, serta keunikan daerah.
d. Pengembangan wawasan kebangsaan dan integrasi bangsa
Di dalam buku ini memang banyak wacana yang mendukung materi. Namun, wacana yang dapat melahirkan kesadaran berpikir dan membangkitkan rasa kebersamaan dalam pembangunan nasionalisme masih kurang untuk semakin bangga menggunakan bahasa Indonesia dan memperkuat identitas bangsa.
B. Kelayakan Penyajian
1. Teknik Penyajian
a. Konsistensi sistematika penyajian
Konsistensi sistematika penyajian dalam buku ini cukup baik, mulai dari pendahuluan (berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, serta hal-hal lain yang dianggap penting bagi peserta didik), bagian isi (uraian, wacana, pelatihan, ilustrasi, gambar), dan pendukung lain. Namun, tidak ada bagian penutup yang berisi rangkuman atau ringkasan yang relevan dalam pembahasan tiap bab.
b. Keruntutan konsep
Buku teks ini memiliki hubungan pengaitan antara uraian, latihan, dan contoh dalam hal kebahasaan dan kesastraan yang satu dengan yang lain sehingga peserta didik mampu mengaplikasikan ilmu secara keseluruhan. Mereka akan membayangkan suatu ilmu sebagai sesuatu yang bulat utuh dan menjadi satu kesatuan.
c. Keseimbangan antarbab
Jumlah halaman disesuaikan dengan materi yang dibahas. Untuk lembar tugas dalam setiap bab pun seimbang, yaitu masing-masing bab terdiri atas empat halaman.
Contoh dan ilustrasi seimbang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pokok bahasan, seperti deskripsi yang mempertimbangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
2. Penyajian Pembelajaran
a. Keterpusatan pada peserta didik
Indikator keterpusatan pada peserta didik sudah terlihat, dapat dibuktikan dengan adanya tugas-tugas mandiri dalam setiap bab. Selain itu, penyajian materi yang interaktif dan partisipatif juga mendukung fakta keterpusatan peserta didik.
Sebagai contoh, terdapat materi yang membuat proses diskusi dan presentasi. Dalam hal itu, peserta didik akan menjadi subjek pembelajaran di mana mereka melatih diri dan emosi dalam menyusun perencanaan sesuatu.
b. Merangsang metakognisi peserta didik
Penyajian materi dalam buku teks ini telah mampu merangsang peserta didik untuk mengembangkan motivasi belajar mereka. Namun, peserta didik kurang untuk berpikir kreatif tentang apa, mengapa, dan bagaimana mempelajari materi pelajaran dengan rasa senang karena penyajiannya yang monoton.
c. Merangsang daya imajinasi, kreasi, dan berpikir kritis peserta didik
Melalui ilustrasi, analisis kasus, dan latihan, buku teks ini menyajikan materi yang mampu merangsang daya imajinasi dan kreasi. Namun, kurang menimbulkan pikiran kritis peserta didik.
3. Kelengkapan Penyajian
a. Bagian pendahuluan
Bagian pendahuluan sudah sesuai, terdiri atas prakata dan daftar isi. Di mana prakata adalah informasi yang mengantarkan pembaca untuk mengetahui tujuan penulis buku, ucapan terima kasih, dan harapan. Sedangkan daftar isi adalah daftar yang memuat informasi yang memudahkan peserta didik untuk mencari dan menemukan bab, subbab, serta topik yang ada di dalamnya.
b. Bagian isi
Bagian isi kurang baik, karena tidak memuat rangkuman dan refleksi. Di dalam isinya hanya terdapat pendahuluan, rujukan, dan pelatihan.
Pendahuluan pada bagian isi berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, dll. Rujukan berisi teks, tabel, dan gambar yang merupakan identitas berupa judul, nomor urut gambar/tabel, dan rujukan. Sedangkan pelatihan berisi kegiatan mandiri dan evaluasi untuk pencapaian kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
c. Bagian penyudah
Seharusnya pada bagian penyudah terdapat glosarium yang berisi istilah-istilah penting dalam teks dengan penjelasan arti istilah tersebut, daftar pustaka yang berisi rujukan dalam penulisan buku tersebut, serta indeks subjek dan pengarang.
Buku teks Bahasa Indonesia ini hanya mencantumkan daftar pustaka, sedangkan glosarium dan indeks (subjek dan pengarang) tidak ada sehingga pembaca akan kebingungan mengenai istilah-istilah yang tidak mereka mengerti.












BAB III
PENILAIAN BUKU TEKS INSTRUMEN 2
A. Kelayakan Bahasa
1. Kesesuaian dengan Tingkat Perkembangan Peserta Didik
a. Kesesuaian dengan tingkat perkembangan intelektual peserta didik
Penggunaan bahasa dalam buku ini masih ada beberapa inti yang kurang sesuai dengan tingkat intelektual peserta didik. Bahasa yang digunakan seharusnya dapat menjelaskan konsep atau ilustrasi sampai contoh yang abstrak sesuai dengan tingkat intelektual peserta didik (yang secara imajinatif dapat dibayangkan oleh peserta didik).
b. Kesesuaian dengan tingkat perkembangan sosial emosional peserta didik
Bahasa yang digunakan buku teks ini kurang sesuai dengan kematangan sosial emosional peserta didik dan tanpa ilustrasi yang menggambarkan konsep-konsep mulai dari lingkungan terdekat (lokal) sampai dengan lingkungan global.
2. Komunikatif
a. Keterbacaan pesan
Penyajian buku ini menggunakan bahasa yang sudah cukup komunikatif untuk siswa kelas XII. Selain itu, bahasanya menarik dan jelas, hanya ada beberapa pesan yang tidak menggunakan pola kalimat efektif sehingga dapat menimbulkan makna ganda.
b. Ketepatan bahasa
Penggunaan istilah yang menggambarkan suatu konsep, prinsip, asas, atau sejenisnya sudah tepat makna dan konsisten. Namun, yang menjadi kekurangan buku teks ini yaitu dalam penggunaan kata atau kalimat yang belum sepenuhnya mengacu dan menggunakan kaidah Ejaan yang Disempurnakan.
3. Keruntutan dan Kesatuan Gagasan
a. Keruntutan dan keterpaduan bab
Keruntutan dan keterpaduan antarbab dalam buku ini, terlihat pada penyampaian pesan dari bab yang satu ke bab lain yang berdekatan dan antarsubbab dalam bab yang mencerminkan hubungan yang logis dan harmonis.
b. Keruntutan dan keterpaduan paragraf
Penyampain pesan antarparagraf yang berdekatan dan antarkalimat dalam paragraf sudah mencerminkan hubungan logis di antara keduanya. Hal tersebut menunjukkan adanya keruntutan dan keterpaduan paragraf di dalam buku teks.
B. Kelayakan Penyajian
1. Teknik Penyajian
a. Konsistensi sistematika penyajian
Konsistensi sistematika penyajian dalam buku ini cukup baik, mulai dari pendahuluan (berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, serta hal-hal lain yang dianggap penting bagi peserta didik), bagian isi (uraian, wacana, pelatihan, ilustrasi, gambar), dan pendukung lain. Namun, tidak ada bagian penutup yang berisi rangkuman atau ringkasan yang relevan dalam pembahasan tiap bab.
b. Keruntutan konsep
Buku teks ini memiliki hubungan pengaitan antara uraian, latihan, dan contoh dalam hal kebahasaan dan kesastraan yang satu dengan yang lain sehingga peserta didik mampu mengaplikasikan ilmu secara keseluruhan. Mereka akan membayangkan suatu ilmu sebagai sesuatu yang bulat utuh.
c. Keseimbangan antarbab
Jumlah halaman disesuaikan dengan materi yang dibahas. Untuk lembar tugas dalam setiap bab pun seimbang, yaitu masing-masing bab terdiri atas empat halaman.
Contoh dan ilustrasi seimbang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pokok bahasan, seperti deskripsi yang mempertimbangkan SK dan KD.
2. Penyajian Pembelajaran
a. Keterpusatan pada peserta didik
Indikator keterpusatan pada peserta didik sudah terlihat, dapat dibuktikan dengan adanya tugas-tugas mandiri tiap bab. Selain itu, penyajian materi yang interaktif dan partisipatif juga mendukung fakta keterpusatan peserta didik.
Sebagai contoh, terdapat materi yang membuat proses diskusi dan presentasi. Dalam hal itu peserta didik akan menjadi subjek pembelajaran di mana mereka melatih diri dan emosi dalam menyusun perencanaan sesuatu.
b. Merangsang metakognisi peserta didik
Penyajian materi dalam buku teks ini telah mampu merangsang peserta didik untuk mengembangkan motivasi belajar. Namun, peserta didik kurang untuk berpikir kreatif tentang apa, mengapa, dan bagaimana mempelajari materi pelajaran dengan rasa senang karena penyajiannya monoton.
c. Merangsang daya imajinasi, kreasi, dan berpikir kritis peserta didik
Melalui ilustrasi, analisis kasus, dan latihan, buku teks ini menyajikan materi yang mampu merangsang daya imajinasi dan kreasi. Namun, kurang menimbulkan pikiran kritis peserta didik.
3. Kelengkapan Penyajian
a. Bagian pendahuluan
Bagian pendahuluan sudah sesuai, terdiri atas prakata dan daftar isi. Di mana prakata adalah informasi yang mengantarkan pembaca untuk mengetahui tujuan penulis buku, ucapan terima kasih, dan harapan. Sedangkan daftar isi adalah daftar yang memuat informasi yang memudahkan peserta didik untuk mencari dan menemukan bab, subbab, serta topik yang ada di dalamnya.
b. Bagian isi
Bagian isi kurang baik, karena tidak memuat rangkuman dan refleksi. Dalam isinya hanya terdapat pendahuluan, rujukan, dan pelatihan.
Pendahuluan pada bagian isi berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, dll. Rujukan berisi teks, tabel, dan gambar yang merupakan identitas berupa judul, nomor urut gambar/tabel, dan rujukan, sedangkan pelatihan berisi kegiatan mandiri dan evaluasi untuk pencapaian kompetensi sesuai dengan SK dan KD.


c. Bagian penyudah
Seharusnya pada bagian penyudah terdapat glosarium yang berisi istilah-istilah penting dalam teks dengan penjelasan arti istilah tersebut, daftar pustaka yang berisi rujukan dalam penulisan buku tersebut, serta indeks subjek dan pengarang.
Buku teks Bahasa Indonesia ini hanya mencantumkan daftar pustaka, sedangkan glosarium dan indeks (subjek dan pengarang) tidak ada, sehingga pembaca akan kebingungan mengenai istilah-istilah yang tidak mereka mengerti.
























BAB IV
PENILAIAN BUKU TEKS INSTRUMEN 3
A. Grafika
1. Ukuran Buku
a. Kesesuaian ukuran buku dengan standar ISO
Buku teks Bahasa Indonesia kelas XII semester dua ini menggunakan kertas berukuran B5 (176x250 mm) untuk menyesuaikan dengan standar ISO.
b. Kesesuaian ukuran dengan materi isi buku
Buku teks tersebut memenuhi kesesuain dalam segi ukuran. Buku teks ini berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tebal. Memungkinkan peserta didik semangat dan tertarik untuk membacanya, dan untuk ukuran lembar sudah disesuaikan dengan materi.
2. Desain Kulit Buku
a. Penampilan unsur tata letak pada kulit muka, belakang, dan punggung memiliki kesatuan (unity)
Buku teks yang baik adalah buku yang memiliki kesatuan tata letak pada kulit muka, belakang, dan punggung buku. Buku teks ini telah memenuhi syarat penampilan tata letak yang hampir sesuai, mulai dari kulit muka, belakang, sampai punggung buku.
b. Tampilan tata letak unsur pada muka, punggung, dan belakang, sesuai/harmonis dan memberikan kesan irama yang baik
Penempatan tata letak pada buku teks ini sudah baik dan sesuai, namun kurang memberikan kesan irama yang baik karena pada muka buku menampilkan gambar lakon teater, sedangkan di samping gambar tersebut tertulis keempat aspek berbahasa. Kemudian dilihat dari belakang buku, tidak ada nama penerbit, hanya ada logo ISBN.
c. Menampilkan pusat pandang (point center) yang baik
Pusat pandang yang ditampilkan buku teks ini yaitu pada tulisan judul mata pelajaran yang ditulis dengan huruf besar dan gambar lakon teater yang disajikan. Tetapi, pemilihan gambar kurang sesuai karena mengandung nilai ambigu. Mungkin orang akan menafsirkannya sebagai buku seni.
Drama memang termasuk salah satu kajian sastra yang dimuat dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi drama lebih cenderung ke dunia seni. Sedangkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia masih banyak cakupan materi yang dapat dijadikan sebagai gambar di muka buku teks, contohnya gambar pensil dan buku. Gambar tersebut menandakan salah satu aspek keterampilan berbahasa, yaitu menulis.
d. Penampilan unsur tata letak konsisten (sesuai pola)
Tata letak tulisan, gambar, dan penyusunannya sudah baik dan sesuai pola. Di sudut kiri atas terdapat nama pengarang, di sudut kanan atas terdapat kurikulum KTSP, di bawah nama pengarang terdapat nama mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan huruf besar, dan di bawahnya terdapat jenjang sekolah dengan kelas.
Di bawah tulisan jenjang sekolah dan semester tersebut, terdapat gambar yang menyiratkan salah satu kajian sastra. Di sudut kiri bawah terdapat nama penerbit dan di sudut kanan bawah terdapat angka tiga yang menandakan sebagai kelas yang dituju sesuai dengan materi.
e. Ukuran unsur tata letak proporsional
Ukuran dan tata letak huruf maupun unsur lainnya sudah sesuai dan proporsional.
f. Warna unsur tata letak harmonis dan memperjelas fungsi
Buku teks ini menggunakan warna merah sebagai warna dominan untuk penyajian dan sebagai warna dasarnya, sedangkan tulisan nama mata pelajaran menggunakan warna putih, sehingga nama mata pelajaran terbaca jelas.
Nama pengarang, nama jenjang sekolah, kelas, dan semester memakai warna kuning. Keterpaduan warna tersebut terlihat harmonis dan dapat memperjelas fungsi.
g. Memiliki kekontrasan yang baik
Dari segi pemilihan warna, buku teks ini kurang tepat dan kurang menimbulkan kekontrasan yang baik. Warna merah tua tidak menimbulkan efek kontras kepada pembaca. Pembaca biasanya melihat tampilan depan dan kesan pertama yang didapatnya. Jika kurang tepat dalam pemilihan warna untuk tampilan pertama, akan mengurangi rasa ketertarikan pembaca.
h. Komposisi unsur tata letak (judul, pengarang, ilustrasi, logo, dll) seimbang dan seirama dengan tata letak isi
Komposisi unsur tata letak yang terdiri atas judul, pengarang, iliustrasi, logo, dll. sudah seimbang dan seirama dengan tata letak isi.
i. Menempatkan unsur tata letak konsisten dalam satu seri
Penempatan unsur tata letak yang ditampilkan buku ini sudah baik dan konsisten dalam satu seri.