Tulisanku

Rabu, 12 Januari 2011

Contoh Penilaian Buku Teks

PENILAIAN BUKU TEKS INSTRUMEN 1
A. Kelayakan Isi
1. Kesesuaian Uraian Materi dengan SK dan KD
a. Kelengkapan materi
Materi yang disajikan buku teks Bahasa Indonesia kelas XII semester 2 yang ditulis oleh Iis Wiati, S.Pd. ini sudah sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang ditetapkan pemerintah. Uraian materi di dalam wacana dirancang sesuai dengan tuntutan untuk pencapaian SK dan KD berdasarkan ruang lingkup empat aspek keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, mulai dari pengenalan konsep mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA.
Buku yang baik memang harus memenuhi tuntutan SK dan KD, dan buku ini telah mencapai kelengkapan tersebut berdasarkan kelayakan isinya. Kelayakan buku teks bergantung pada isi yang dimuat di dalamnya. Maka dari itu, buku teks harus menyesuaikan dengan tuntutan yang telah ditetapkan.
b. Kedalaman materi
Sebagian besar materi yang ada dalam buku ini belum dijelaskan secara terperinci, kadang hanya butir-butir pentingnya sehingga kurang mendalami materi. Sedangkan pemilihan bentuk, kesesuaian, dan variasi wacana mencerminkan kedalaman materi.
Begitu pun dengan tingkat kesulitan dan kekompleksan wacana, harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik.
2. Keakuratan Materi
a. Keakuratan dalam pemilihan wacana
Dalam buku ini, wacana yang dipilih sudah sesuai dengan bahasan materi. Sebagian besar wacana mencantumkan sumber yang menguatkan keakuratan berita dalam wacana tersebut. Namun, pada wacana bagian informasi masih ada yang tidak mencantumkan sumber wacana sehingga kurang meyakinkan keakuratannya.
Buku ini juga mengandung uraian materi yang sesuai dengan kenyataan yang ada dan sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik.
b. Keakuratan dalam konsep dan teori
Konsep dan teori yang disajikan untuk mencapai Kompetensi Dasar sesuai dengan definisi yang berlaku dalam bidang ilmu bahasa (linguistik) dan ilmu sastra, digunakan secara tepat sesuai dengan fenomena yang dibahas, dan tidak menimbulkan banyak tafsir.
Dalam buku teks karya Iis Wiati, S.Pd. ini, konsep teori yang disajikan cukup baik, namun masih ada definisi-definisi yang dapat menimbulkan pemahaman yang lain.
c. Keakuratan dalam pemilihan contoh
Pemilihan contoh dari tiap materi dalam buku teks ini sebagian besar sudah cukup baik. Contoh-contohnya dapat mudah dibayangkan dan dimengerti peserta didik.
Uraian dan contoh menanamkan keruntutan konsep dari yang mudah ke sukar, dari yang konkret ke abstrak, dari yang sederhana ke kompleks, dari yang telah dikenal sampai pengembangannya. Contoh yang disajikan pun mengandung keunggulan nilai-nila moral, seperti keteladanan, kejujuran, tanggungjawab, kedisiplinan, kerjasama, dan toleransi.
d. Keakuratan dalam pelatihan
Pelatihan-pelatihan sudah mengukur kemampuan penguasaan materi peserta didik. Pelatihan yang diberikan dilakukan yaitu dengan cara mengerjakannya secara individu atau diskusi kelompok.
3. Pendukung Materi Pembelajaran
a. Kesesuaian dengan perkembangan ilmu
Dalam buku ini, pendukung materi sudah sesuai dengan materi pembelajaran, tetapi ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan perkembangan ilmu masa kini.
Sedangkan deskripsi tentang kesesuaian materi dengan perkembangan ilmu, yaitu bahwa materi yang disajikan bernilai kekinian (up to date) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks) yang relevan dengan tingkat pemahaman peserta didik. Itulah yang menyebabkan kurangnya nilai kelayakan buku teks tersebut.


b. Kesesuaian fitur/contoh/latihan/rujukan
Fitur/contoh/latihan mencerminkan peristiwa dan kejadian yang ada. Rujukan yang digunakan menarik dan sesuai dengan materi yang dibahas. Di dalamnya terdapat peristiwa, kejadian, dan kondisi yang kontekstual. Hal ini menunjang keberhasilan penuisan dan penyusunan buku teks tersebut.
c. Pengembangan wawasan kebinekaan
Materi, latihan, atau contoh yang menunjukkan pengembangan wawasan kebinekaan sangat banyak, terutama terlihat pada wacana yang mempunyai wawasan nusantara yang luas.
Hal tersebut di atas dapat membimbing peserta didik untuk mengenal dan menghargai perbedaan budaya, pendapat, penampilan, dan peninggalan leluhur budaya bangsa, mengenal persebaran keanekaragaman alam dan makhluk hidup, serta keunikan daerah.
d. Pengembangan wawasan kebangsaan dan integrasi bangsa
Di dalam buku ini memang banyak wacana yang mendukung materi. Namun, wacana yang dapat melahirkan kesadaran berpikir dan membangkitkan rasa kebersamaan dalam pembangunan nasionalisme masih kurang untuk semakin bangga menggunakan bahasa Indonesia dan memperkuat identitas bangsa.
B. Kelayakan Penyajian
1. Teknik Penyajian
a. Konsistensi sistematika penyajian
Konsistensi sistematika penyajian dalam buku ini cukup baik, mulai dari pendahuluan (berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, serta hal-hal lain yang dianggap penting bagi peserta didik), bagian isi (uraian, wacana, pelatihan, ilustrasi, gambar), dan pendukung lain. Namun, tidak ada bagian penutup yang berisi rangkuman atau ringkasan yang relevan dalam pembahasan tiap bab.
b. Keruntutan konsep
Buku teks ini memiliki hubungan pengaitan antara uraian, latihan, dan contoh dalam hal kebahasaan dan kesastraan yang satu dengan yang lain sehingga peserta didik mampu mengaplikasikan ilmu secara keseluruhan. Mereka akan membayangkan suatu ilmu sebagai sesuatu yang bulat utuh dan menjadi satu kesatuan.
c. Keseimbangan antarbab
Jumlah halaman disesuaikan dengan materi yang dibahas. Untuk lembar tugas dalam setiap bab pun seimbang, yaitu masing-masing bab terdiri atas empat halaman.
Contoh dan ilustrasi seimbang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pokok bahasan, seperti deskripsi yang mempertimbangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
2. Penyajian Pembelajaran
a. Keterpusatan pada peserta didik
Indikator keterpusatan pada peserta didik sudah terlihat, dapat dibuktikan dengan adanya tugas-tugas mandiri dalam setiap bab. Selain itu, penyajian materi yang interaktif dan partisipatif juga mendukung fakta keterpusatan peserta didik.
Sebagai contoh, terdapat materi yang membuat proses diskusi dan presentasi. Dalam hal itu, peserta didik akan menjadi subjek pembelajaran di mana mereka melatih diri dan emosi dalam menyusun perencanaan sesuatu.
b. Merangsang metakognisi peserta didik
Penyajian materi dalam buku teks ini telah mampu merangsang peserta didik untuk mengembangkan motivasi belajar mereka. Namun, peserta didik kurang untuk berpikir kreatif tentang apa, mengapa, dan bagaimana mempelajari materi pelajaran dengan rasa senang karena penyajiannya yang monoton.
c. Merangsang daya imajinasi, kreasi, dan berpikir kritis peserta didik
Melalui ilustrasi, analisis kasus, dan latihan, buku teks ini menyajikan materi yang mampu merangsang daya imajinasi dan kreasi. Namun, kurang menimbulkan pikiran kritis peserta didik.
3. Kelengkapan Penyajian
a. Bagian pendahuluan
Bagian pendahuluan sudah sesuai, terdiri atas prakata dan daftar isi. Di mana prakata adalah informasi yang mengantarkan pembaca untuk mengetahui tujuan penulis buku, ucapan terima kasih, dan harapan. Sedangkan daftar isi adalah daftar yang memuat informasi yang memudahkan peserta didik untuk mencari dan menemukan bab, subbab, serta topik yang ada di dalamnya.
b. Bagian isi
Bagian isi kurang baik, karena tidak memuat rangkuman dan refleksi. Di dalam isinya hanya terdapat pendahuluan, rujukan, dan pelatihan.
Pendahuluan pada bagian isi berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, dll. Rujukan berisi teks, tabel, dan gambar yang merupakan identitas berupa judul, nomor urut gambar/tabel, dan rujukan. Sedangkan pelatihan berisi kegiatan mandiri dan evaluasi untuk pencapaian kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
c. Bagian penyudah
Seharusnya pada bagian penyudah terdapat glosarium yang berisi istilah-istilah penting dalam teks dengan penjelasan arti istilah tersebut, daftar pustaka yang berisi rujukan dalam penulisan buku tersebut, serta indeks subjek dan pengarang.
Buku teks Bahasa Indonesia ini hanya mencantumkan daftar pustaka, sedangkan glosarium dan indeks (subjek dan pengarang) tidak ada sehingga pembaca akan kebingungan mengenai istilah-istilah yang tidak mereka mengerti.












BAB III
PENILAIAN BUKU TEKS INSTRUMEN 2
A. Kelayakan Bahasa
1. Kesesuaian dengan Tingkat Perkembangan Peserta Didik
a. Kesesuaian dengan tingkat perkembangan intelektual peserta didik
Penggunaan bahasa dalam buku ini masih ada beberapa inti yang kurang sesuai dengan tingkat intelektual peserta didik. Bahasa yang digunakan seharusnya dapat menjelaskan konsep atau ilustrasi sampai contoh yang abstrak sesuai dengan tingkat intelektual peserta didik (yang secara imajinatif dapat dibayangkan oleh peserta didik).
b. Kesesuaian dengan tingkat perkembangan sosial emosional peserta didik
Bahasa yang digunakan buku teks ini kurang sesuai dengan kematangan sosial emosional peserta didik dan tanpa ilustrasi yang menggambarkan konsep-konsep mulai dari lingkungan terdekat (lokal) sampai dengan lingkungan global.
2. Komunikatif
a. Keterbacaan pesan
Penyajian buku ini menggunakan bahasa yang sudah cukup komunikatif untuk siswa kelas XII. Selain itu, bahasanya menarik dan jelas, hanya ada beberapa pesan yang tidak menggunakan pola kalimat efektif sehingga dapat menimbulkan makna ganda.
b. Ketepatan bahasa
Penggunaan istilah yang menggambarkan suatu konsep, prinsip, asas, atau sejenisnya sudah tepat makna dan konsisten. Namun, yang menjadi kekurangan buku teks ini yaitu dalam penggunaan kata atau kalimat yang belum sepenuhnya mengacu dan menggunakan kaidah Ejaan yang Disempurnakan.
3. Keruntutan dan Kesatuan Gagasan
a. Keruntutan dan keterpaduan bab
Keruntutan dan keterpaduan antarbab dalam buku ini, terlihat pada penyampaian pesan dari bab yang satu ke bab lain yang berdekatan dan antarsubbab dalam bab yang mencerminkan hubungan yang logis dan harmonis.
b. Keruntutan dan keterpaduan paragraf
Penyampain pesan antarparagraf yang berdekatan dan antarkalimat dalam paragraf sudah mencerminkan hubungan logis di antara keduanya. Hal tersebut menunjukkan adanya keruntutan dan keterpaduan paragraf di dalam buku teks.
B. Kelayakan Penyajian
1. Teknik Penyajian
a. Konsistensi sistematika penyajian
Konsistensi sistematika penyajian dalam buku ini cukup baik, mulai dari pendahuluan (berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, serta hal-hal lain yang dianggap penting bagi peserta didik), bagian isi (uraian, wacana, pelatihan, ilustrasi, gambar), dan pendukung lain. Namun, tidak ada bagian penutup yang berisi rangkuman atau ringkasan yang relevan dalam pembahasan tiap bab.
b. Keruntutan konsep
Buku teks ini memiliki hubungan pengaitan antara uraian, latihan, dan contoh dalam hal kebahasaan dan kesastraan yang satu dengan yang lain sehingga peserta didik mampu mengaplikasikan ilmu secara keseluruhan. Mereka akan membayangkan suatu ilmu sebagai sesuatu yang bulat utuh.
c. Keseimbangan antarbab
Jumlah halaman disesuaikan dengan materi yang dibahas. Untuk lembar tugas dalam setiap bab pun seimbang, yaitu masing-masing bab terdiri atas empat halaman.
Contoh dan ilustrasi seimbang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pokok bahasan, seperti deskripsi yang mempertimbangkan SK dan KD.
2. Penyajian Pembelajaran
a. Keterpusatan pada peserta didik
Indikator keterpusatan pada peserta didik sudah terlihat, dapat dibuktikan dengan adanya tugas-tugas mandiri tiap bab. Selain itu, penyajian materi yang interaktif dan partisipatif juga mendukung fakta keterpusatan peserta didik.
Sebagai contoh, terdapat materi yang membuat proses diskusi dan presentasi. Dalam hal itu peserta didik akan menjadi subjek pembelajaran di mana mereka melatih diri dan emosi dalam menyusun perencanaan sesuatu.
b. Merangsang metakognisi peserta didik
Penyajian materi dalam buku teks ini telah mampu merangsang peserta didik untuk mengembangkan motivasi belajar. Namun, peserta didik kurang untuk berpikir kreatif tentang apa, mengapa, dan bagaimana mempelajari materi pelajaran dengan rasa senang karena penyajiannya monoton.
c. Merangsang daya imajinasi, kreasi, dan berpikir kritis peserta didik
Melalui ilustrasi, analisis kasus, dan latihan, buku teks ini menyajikan materi yang mampu merangsang daya imajinasi dan kreasi. Namun, kurang menimbulkan pikiran kritis peserta didik.
3. Kelengkapan Penyajian
a. Bagian pendahuluan
Bagian pendahuluan sudah sesuai, terdiri atas prakata dan daftar isi. Di mana prakata adalah informasi yang mengantarkan pembaca untuk mengetahui tujuan penulis buku, ucapan terima kasih, dan harapan. Sedangkan daftar isi adalah daftar yang memuat informasi yang memudahkan peserta didik untuk mencari dan menemukan bab, subbab, serta topik yang ada di dalamnya.
b. Bagian isi
Bagian isi kurang baik, karena tidak memuat rangkuman dan refleksi. Dalam isinya hanya terdapat pendahuluan, rujukan, dan pelatihan.
Pendahuluan pada bagian isi berisi tujuan penulisan buku teks pelajaran, sistematika buku, cara belajar yang harus diikuti, dll. Rujukan berisi teks, tabel, dan gambar yang merupakan identitas berupa judul, nomor urut gambar/tabel, dan rujukan, sedangkan pelatihan berisi kegiatan mandiri dan evaluasi untuk pencapaian kompetensi sesuai dengan SK dan KD.


c. Bagian penyudah
Seharusnya pada bagian penyudah terdapat glosarium yang berisi istilah-istilah penting dalam teks dengan penjelasan arti istilah tersebut, daftar pustaka yang berisi rujukan dalam penulisan buku tersebut, serta indeks subjek dan pengarang.
Buku teks Bahasa Indonesia ini hanya mencantumkan daftar pustaka, sedangkan glosarium dan indeks (subjek dan pengarang) tidak ada, sehingga pembaca akan kebingungan mengenai istilah-istilah yang tidak mereka mengerti.
























BAB IV
PENILAIAN BUKU TEKS INSTRUMEN 3
A. Grafika
1. Ukuran Buku
a. Kesesuaian ukuran buku dengan standar ISO
Buku teks Bahasa Indonesia kelas XII semester dua ini menggunakan kertas berukuran B5 (176x250 mm) untuk menyesuaikan dengan standar ISO.
b. Kesesuaian ukuran dengan materi isi buku
Buku teks tersebut memenuhi kesesuain dalam segi ukuran. Buku teks ini berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tebal. Memungkinkan peserta didik semangat dan tertarik untuk membacanya, dan untuk ukuran lembar sudah disesuaikan dengan materi.
2. Desain Kulit Buku
a. Penampilan unsur tata letak pada kulit muka, belakang, dan punggung memiliki kesatuan (unity)
Buku teks yang baik adalah buku yang memiliki kesatuan tata letak pada kulit muka, belakang, dan punggung buku. Buku teks ini telah memenuhi syarat penampilan tata letak yang hampir sesuai, mulai dari kulit muka, belakang, sampai punggung buku.
b. Tampilan tata letak unsur pada muka, punggung, dan belakang, sesuai/harmonis dan memberikan kesan irama yang baik
Penempatan tata letak pada buku teks ini sudah baik dan sesuai, namun kurang memberikan kesan irama yang baik karena pada muka buku menampilkan gambar lakon teater, sedangkan di samping gambar tersebut tertulis keempat aspek berbahasa. Kemudian dilihat dari belakang buku, tidak ada nama penerbit, hanya ada logo ISBN.
c. Menampilkan pusat pandang (point center) yang baik
Pusat pandang yang ditampilkan buku teks ini yaitu pada tulisan judul mata pelajaran yang ditulis dengan huruf besar dan gambar lakon teater yang disajikan. Tetapi, pemilihan gambar kurang sesuai karena mengandung nilai ambigu. Mungkin orang akan menafsirkannya sebagai buku seni.
Drama memang termasuk salah satu kajian sastra yang dimuat dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi drama lebih cenderung ke dunia seni. Sedangkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia masih banyak cakupan materi yang dapat dijadikan sebagai gambar di muka buku teks, contohnya gambar pensil dan buku. Gambar tersebut menandakan salah satu aspek keterampilan berbahasa, yaitu menulis.
d. Penampilan unsur tata letak konsisten (sesuai pola)
Tata letak tulisan, gambar, dan penyusunannya sudah baik dan sesuai pola. Di sudut kiri atas terdapat nama pengarang, di sudut kanan atas terdapat kurikulum KTSP, di bawah nama pengarang terdapat nama mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan huruf besar, dan di bawahnya terdapat jenjang sekolah dengan kelas.
Di bawah tulisan jenjang sekolah dan semester tersebut, terdapat gambar yang menyiratkan salah satu kajian sastra. Di sudut kiri bawah terdapat nama penerbit dan di sudut kanan bawah terdapat angka tiga yang menandakan sebagai kelas yang dituju sesuai dengan materi.
e. Ukuran unsur tata letak proporsional
Ukuran dan tata letak huruf maupun unsur lainnya sudah sesuai dan proporsional.
f. Warna unsur tata letak harmonis dan memperjelas fungsi
Buku teks ini menggunakan warna merah sebagai warna dominan untuk penyajian dan sebagai warna dasarnya, sedangkan tulisan nama mata pelajaran menggunakan warna putih, sehingga nama mata pelajaran terbaca jelas.
Nama pengarang, nama jenjang sekolah, kelas, dan semester memakai warna kuning. Keterpaduan warna tersebut terlihat harmonis dan dapat memperjelas fungsi.
g. Memiliki kekontrasan yang baik
Dari segi pemilihan warna, buku teks ini kurang tepat dan kurang menimbulkan kekontrasan yang baik. Warna merah tua tidak menimbulkan efek kontras kepada pembaca. Pembaca biasanya melihat tampilan depan dan kesan pertama yang didapatnya. Jika kurang tepat dalam pemilihan warna untuk tampilan pertama, akan mengurangi rasa ketertarikan pembaca.
h. Komposisi unsur tata letak (judul, pengarang, ilustrasi, logo, dll) seimbang dan seirama dengan tata letak isi
Komposisi unsur tata letak yang terdiri atas judul, pengarang, iliustrasi, logo, dll. sudah seimbang dan seirama dengan tata letak isi.
i. Menempatkan unsur tata letak konsisten dalam satu seri
Penempatan unsur tata letak yang ditampilkan buku ini sudah baik dan konsisten dalam satu seri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar