Tulisanku

Minggu, 09 Januari 2011

tipografi puisi


Kontribusi Topografi terhadap Kemaknaan Puisi Kongkret
            Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Bisa kita lihat pada beberapa puisi dari Sutardji Calzoum Bachri salah satunya adalah puisi di bawah ini.

TAPI
aku bawakan bunga padamu
                                       tapi kau bilang masih
aku bawakan resah padamu
                                       tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
                                       tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
                                       tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
                                       tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padmu
                                       tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
                                       tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
                                       wah!
Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK, 1981 
            Dengan tipografi  seperti di atas bisa kita simpulkan bahwa perwajahan puisi tersebut menggambarkan sebuah pertentangan antara “aku” dan “kau” sehingga apa pun yang dibawa oleh “aku” selalu kandas dan terjatuh (tak bermakna) di mata “aku” seperti digambarkan dalam baris puisi yang anjlok ke bawah dan menjorok ke dalam.  Tipografi barisnya yang anjlok dan menjorok ke dalam seolah menggambarkan bahwa apa yang dimiliki “aku” sangat diremehkan,  tidak ada apa-apanya dalam pandangan “kau”.  Selain itu, dengan adanya pemisahan antara baris “aku” dan “kau”, seolah menggambarkan bahwa percakapan dalam puisi itu terjadi dialog antara dua orang, baik antara seorang Budak dengan Tuannya, maupun Hamba dengan Tuhannya. Hal itu menggambarkan bahwa seorang hamba dengan Tuhannya tidak akan pernah sejajar.
            Sebenanya dengan tipografi seperti itu pembaca bisa mengartikan atau memaknai puisi tersebut sesuai dengan makna yang ditangkap oleh pembaca. Seperti yang diutarakan oleh Julia Kristeva bahwa arti sebuah puisi tidak terletak dari kata, seperti sesuatu yang dipikirkan atau dimaksudkan oleh pengarang, melainkan kata-kata itu menjadikan sebuah arti yang harus diusahakan dan diproduksi sendiri oleh pembaca. Bila terjadi perbedaan makna yang ditangkap oleh setiap pembaca, itu merupakan hal yang wajar karena puisi ekspresi dalam puisi itu bersifat tidak langsung. Seperti yang kita ketahui bahwa ketidaklangsungan tersebut disebabkan oleh penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Jadi semua orang berhak mengartikan apapun dari puisi siapa pun tak harus sesuai yang dimaksudkan oleh pengarangnya karena penyimpangan pemaknaan atau arti puisi itu merupakan salah satu sebab dari ketidaklangsungan ekspresi di dalam puisi.
            Selain dari penyimpangan arti, Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). Bisa kita lihat dalam puisi di atas dalam segi tipografi penyimpanagn grafologis sangat tampak jelas. Tidak tampak tanda baca baik titik maupun koma kecuali hanya tanda seru (!) pada kata terakhir yang menyatakan ketakjuban “kau”. Selain itu tidak ada huruf kapital yang mengawali awal kalimat kecuali hanya pada judul puisi. Sehingga kita bisa mengambil makna bahwa seorang manuasia (aku) janganlah merasa lebih besar (hebat) dari pada penciptanya. “kau” yang tidak diawali huruf kapital seperti layaknya huruf yang menggambarkan Tuhan, seolah meyakinkan manusi (aku) bahwa Tuhan tidak mengajarkan manusia untuk sombong jadi “aku” tidak menggunakan huruf kapital agar tidak melebihi “kau” (Tuhan).

3 komentar:

  1. siip terimkasih pencerahannya.... jika boleh meminta aku akan mengcopas sebagian dari isi di ats untuk dijadikan bahan pemberlajaran. terimakash. = menuggu jawabannya=

    BalasHapus